Di sepertiga malam yang menyakitkan

 

Malam itu jantungku berdetak tak beraturan, eh bukan malam tepatnya dini hari saat itu jam menunjukkan pukul 01.16 wita dini hari, aku terbangun oleh dering handphoneku seperti biasanya, yah bunyi telvon dari seseorang yang sudah aku anggap sebagai sahabat terdekatku walau belum lama bertemu tapi aku bersaksi beliau adalah orang yang sangat baik budi pekerti dan akhlaknya. Mungkin sekedar ingin tau saja keadaanku kala itu, karena memang aku lagi sakit hingga tak bisa menghadiri kegiatan bersama teman-teman. Hingga panjang lebar kami ngobrol, sedikit mulai terdengar keluhan dari suaranya yang mulai berbagi tentang apa yang terjadi pada malam itu. Yah, aku menghela nafasku dengan panjang seolah ada uneg-uneg yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku, setelah beberapa menit ngobrol dengannya, aku mengakhiri obrolan biar bisa segera istrahat untuk mengembalikan tenagaku yang sudah mulai meredup. Lalu kemudian aku membuka aplikasi WhatsApp di Handphoneku, membaca dan memantau beberapa story teman-teman hingga aku membuka story salah satu orang dan didalamnya terdengar suara para sahabatku sedang tertawa bahagia menikmati suasana pantai di penghujung malam saat itu. Entahlah, hatiku begitu cepat terasa sakit, air mataku dengan sendirinya bercucuran. Aku kecewa, dua kata itu yang keluar dari gumamku dalam diam. Bukan karena adanya cemburu tak diajak, bukan karena marah sebab tak lagi dilibatkan dalam kebahagiaan mereka. Tapi sejujurnya aku tau keadaan dua sahabatku saat itu yang baru saja pulih dari rasa sakitnya, tapi kemudian seolah merasa kuat dan memilih menyelesaikan permasalahan hidup mereka di pesisir pantai dini hari pula. Sakit ?? yah sangat menyakitkan ketika kita bawel kepada sahabat sendiri tapi mereka tak pernah mendengarkan apa yang kita sampaikan. Merasa tak di anggap, aku merasa seolah tak berguna jadi sahabat. Untuk apa aku selama ini bawel terhadap mereka jika saja di disepertiga malam terakhir mereka lalu lalang dijalanan tanpa sepengetahuanku. Aku menyadari penuh aku terlalu naif dengan pergaulan mereka, tapi ternyata naifku terhadap situasi adalah cara allah menjagaku dari orang-orang yang hanya mendekatiku karena butuh saja.


 

Hingga salah satu grup WhatsApp pun ramai karena ulahku yang menegur tanpa berpikir panjang atas tindakan mereka yang mungkin tidak sesuai dengan cara berpikirku,. Aku benar-benar menentang kejadian itu, bukan karena membela atau pun berpihak pada salah satu orang, hanya saja bagiku kurang wajar saja jika seorang wanita telah keluar dari kodratnya sebagai wanita yang harusnya diam diri dirumah menjaga diri dari segala bentuk fitnah diluar sana. Aku tidak pernah memungkiri bahwa hal serupa pernah aku lakukan dulu, dan saat ini mulai aku sadari bahwa hal itu hanya merugikanku saja, tak sedikitpun memberi manfaat yang baik untuk pribadiku, hal-hal seperti itu malah melemahkan imanku. Maka berangkat dari pengalaman itulah aku mulai berusaha agar sahabat baikku tidak lagi melakukan hal yang sama. Tapi apalah dayaku, mungkin disebagian orang menganggapku sok suci atau sok polos, sumpah demi apapun aku hanya tidak ingin sahabatku sakit baik hati maupun raganya, karena harus nyaman dengan keadaan yang tidak seharusnya tercipta. Aku tau beberapa orang terlibat rasa yang tidak biasa, aku pun tau mereka adalah orang-orang dewasa yang mungkin ingin menikmati sisa-sisa umur mereka dengan hal-hal yang menyenangkan. Tapi sudahlah semua sudah terjadi, beberapa orang sudah terlanjur membenciku, mungkin tak ingin lagi mengenalku. Namun Sesungguhnya aku tak pernah peduli dengan bentuk penilaian manusia terhadapku. Terlepas dari kata sempurna kita semua adalah pendosa yang hebat, hanya saja saat ini allah sedang menutup rapat aib-aibku. Dan mulai saat ini aku memutuskan untuk mengembalikan ketenangan batinku yang pernah hilang, aku mulai menghindari perkumpulan sebuah organisasi yang tak memberi manfaat baik dalam diriku. Lebih baik sendiri dalam ketenangan daripada bersama dalam berbuat kesalahan.

 

Story By :

L_Vhiin

Komentar