PENYALAHGUNAAN
KEBAIKAN
Kala itu suasana menjadi hening, tak seperti
biasanya. Semua mulut seakan tertutup rapat tak ingin memulai pembicaraan.
Secara beruntun pesan Whatsapp di handponku terus saja berbunyi. Getaran nada hanphoneku
membuatku semakin sedih saja dengan semua yang terjadi saat ini.
Pernah disuatu siang dikantor, entah karena
kelelahan bekerja ataupun karena kelelahan berpikir dan merasakan suasana tak
mengenakan itu. Tangisku tiba-tiba pecah tak terbendung lagi. Air mataku
mengalir deras bak air hujan yang mengguyur permukaan bumi. Hatiku sakit,
kecewa bercampur aduk menjadi satu. Mereka yang ku kenal seperti saudara
sendiri dalam tempo yang singkat terlihat sangat mengecewakan. Yah aku kecewa,
bahkan hatiku begitu mendongkol sendiri seperti orang munafik yang berpura-pura
baik saja di depan mereka, tapi dibelakang sesungguhnya hatiku membenci, jiwaku
meronta-ronta aku bahkan berpikir untuk tidak lagi mengenal mereka, aku tak mau
lagi berurusan dengan mereka. Tapi aku masih memilih untuk diam dan memendam
segala rasa yang menyesakkan dada itu.
Jika ingin dihargai maka belajarlah untuk
menghargai. Kalimat itu yang selalu ku tanamkan dalam lubuk hatiku yang paling
dalam sebagai wujud intropeksi dalam diriku. Tapi entahlah, sosok yang pernah
ku banggakan, sahabat yang selalu ku puja dalam pengorbanannya, sekilas menjadi
pribadi yang buruk dan seolah tak punya hati nurani. Memaksa, membujuk dan lain
sebagainya merupakan upaya-upaya yang aku lakukan untuk sedikit saja meluluhkan
hatinya agar setidaknya sejenak saja menghargaiku dan juga yang lainnya. Jika
bukan menghargai kakak tertua dalam komunitas itu, sesungguhnya aku tak ingin
lagi kembali, aku tak ingin lagi saling berbagi..
Subahannallah, astagfirullahal’adzim. Hanya
kata-kata itu yang selalu menggema dalam hatiku untuk setidaknya sedikit
memberikan ketenangan dan memberikan energi positif kepada yang lainnya agar
tidak merasakan kecewa yang sama.
Kebaikan yang begitu banyak dan bahkan menggunung
terhapus oleh satu tindakan yang harusnya bisa untuk ditoleransi, tapi rasa
egois yang begitu tinggi menghancurkan semua kebaikan itu menjadi hamparan debu
yang telah diterbangkan angin bahkan tak sedikitpun berbekas. Dan yah
penyesalan pun pasti akan selalu mengiringi setiap tindakan dan keputusan
konyol yang terlontarkan dari mulut dan hati yang tak lagi punya cinta dan
kasih sayang terhhadap orang lain.
Hingga akhirnya akupun membuat tafsiran sendiri
bahwa rasa itu telah melebihi batas wajar untuk manusia yang bernama sahabat.
Kasih dan sayang itu penting, tapi semua ada porsinya, ketika kita mencintai
sesuatu melebih kecintaan kita terhadap diri sendiri, maka fix berarti kita
menzholimi diri kita sendiri. Bagaimana rasa terhadap sahabat perempuan?
Sewajarnya saja, jangan pernah berteman seolah kamu sudah memiliki jiwa dan
raga sahabatmu itu, agar rasamu masih bisa masuk dalam kategori normal. Jika
porsi sayangmu terhadap sahabat perempuan/laki-laki sudah sama sperti porsi
sayangmu terhadap seorang laki-laki (pacar), maka ku sebut itu kegilaan yang
samar-samar. Ingatlah setiap kita manusia punya batas kewajaran dalam diri
sendiri, jika itu melebihi batas. Maka kita masuk dalam wadah TIDAK NORMAL.
Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, tapi ingat
semua yang kita perbuat baik ataupun buruk dampaknya kita yang akan merasakan
bukan orang lain, sekalipun ada orang lain, mungkin mereka hanya akan menerima
sedikit percikan penyesalan. Maka jangan pernah mengambil keputusan saat marah
dan jangan pernah berjanji saat sedang berbahagia.
Write By @Elvin
Komentar
Posting Komentar